Awal bulan Oktober lalu saya mendapat jatah liputan ke luar kota. Kali ini tugas saya menguntit Presiden menutup acara Sail Wakatobi-Belitung 2011. Tour de Belitung!

Naik pesawat milik Sriwijaya Airlines saya mendarat di Bandara Hanandjoeddin Belitung setelah hampir dua jam perjalanan udara. Bandara internasional Belitung ini masih basah, gerimis, sepertinya hujan baru saja reda.
Aneka macam spanduk bertema ‘Selamat Datang di Negeri Laskar Pelangi’ menyambut saya di bandara. Meski bertaraf internasional, sebenarnya Bandara Hanandjoeddin hanya seukuran aula SMA saya di kampung.
Perjalanan panjang dimulai. Saya lebih tertarik mengulas perjalanan saya menjajaki eksotisme Belitung, ketimbang agenda kenegaraan yang normatif. Meski waktu bersantai pendek, namun saya cukup menikmatinya.
Belitung punya banyak pantai yang indah. Sebut saja Pantai Tanjung Kelayang yang eksotis, airnya hijau-biru jernih, dan tentu saja ramai wisatawan. Di tengah pantai ada patung burung Kelayang (burung layang-layang), yang menginspirasi pemberian nama pantai ini. Jauh di tengah laut sana ada Pulau Lengkuas dan Pulau Garuda, sayang saya tak bisa ke sana. Meski begitu, tetap saja pemandangan di pantai ini sangat elok dan tak mudah dilupakan.
Menginjak hari kedua, saya berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Tinggi. Pelabihan ini terletak jauh di tengah laut. Jembatan panjangnya hampir 2 Km mengantar penumpang kapal ke kapal yang berlabuh. Pemandangan dari tengah laut, sungguh menakjubkan, sayang sekali matahari tak bersahabat dan terus membakar kulit saya sampai perih.
Kebetulan ada KRI Soeharso, RS terapung yang tengah merapat. Kapal yang sungguh besar, di hari terakhir kunjungan saya ke belitung, saya sempat menjajaki habis semua isi kapal ini,sambil ngobrol santai bersama Pak Kapten Kapal, luar biasa!
Menginjak hari ketiga, saya menyempatkan diri ke Pantai Tanjung Tinggi. Inilah pantai paling eksotis di Belitung. Disinilah film Laskar Pelangi dicetak. Apa yang ada dalam film yang disutradari Riri Reza itu memang tak ada yang salah!
Pantai Tanjung Tinggi dihiasi puluhan batu raksasa, besar sekali. Ditambah jernihnya air biru kehijauan yang tembus sampai dasar pantai, sungguh luar biasa indahnya. Anak-anak bisa berenang sampai 100 meter ke tengah dan belum tenggelam. Pantai di Belitung memang sangat pelan ombaknya, membuat kita dimanja keindahan alam Belitung.
Hmmm nikmat bukan? Tapi banyak juga sedihnya. Di Belitung tak ada taksi, tak ada angkot, pom bensin tutup pukul 19.00 WIB. Memang daerah ini belum berkembang. Jalan yang besar sengaja dibangun pemerintah setempat untuk menyambut Sail Belitung. Namun angkutan kotanya tak ada. Tapi kalau ke sana jangan lupa beli batu alam ‘meteor’ alias batu satam, jangan kaget, batu hitam gelap ini harganya sangat mahal. Banyak sekali mitos dari kesehatan sampai peruntungan hingga jodoh. Dalam sebuah artikel yang saya tulis untuk kantor saya, ada sebuah batu satam berharga Rp 100 juta, wow! ya, karena batu ini bertulis lafal Allah.
16 Nopember 2011
KRI dokter Soeharso adalah Rumah Sakit (RS) terapung yang merapat di Pelabuhan Tanjung Tinggi, Belitung. Dan kami adalah empat tamu terakhir kapal raksasa ini. Kami turun semenit sebelum kapal berlabuh meninggalkan dermaga.
Adalah Operasi Surya Baskara Jaya yang mengantar kapal milik TNI AL tersebut merapat ke pelabuhan Belitung. Kapal ini berada selama dua hari di Pelabuhan, menyambut acara puncak Sail Wakatobi-Belitung , Kamis (13/10/2011).
Perjalanan kami meliput serangkaian acara Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad itu pula yang mengantar kami ke KRI sepanjang 140 meter ini. Terus terang kami berempat, Saya, Reymond SCTV, Haepy SCTV, dan Emir TVRI, dangat mengagumi kapal ini.
Setelah mengurus sejumlah perizinan, akhirnya kami diperbolehkan menjelajah lambung kapal buatan Korea yang difungsikan sebagai RS terapung ini. Kapten kapal, Letnan Kolonel Ari A. Mempersilakan kami masuk ke ruangannya, mulai membuka fakta dibalik kebesaran kapal ini.
Setelah bercakap lama, kami akhirnya diperbolehkan melihat langsung fasilitas kesehatan yang berlimpah di RS ini. Kepala RS terapung ini,Letnan kolonel Danandjaja pun mempersilakan kami menjelajah isi kapal. Beliau sangat antusias memaparkan kehebatan kapal ini. Kami sungguh terpukau.
Kapal ini dilengkapi dengan alat kesehatan yang kelengkapannya melebihi RSCM Jakarta. RS terapung ini bahkan dilengkapi dengan dua kapal dan ambulan penjemput di dek bawahnya. Kapal ini tergolong tangguh, dilengkapi sarana kesehatan dan sarana lounge hiburan untuk perwira.
Satu jam mengelilingi lambung kapal, berfoto bersama kapten kapal, bergaya disamping helikopter kapal, membuat kami lupa waktu. Berkali-kali peluit peringatan awak kapal berbunyi bersahgut-sahutan. Memang pada saat kami bertandang, kapal sudah bersiap lepas landas. Pukul 17.00 WIB, peringatan agar tamu segera lepas landas dikumandangkan.
Panik bukan kepalang, peluit pemberangkatan kapal berulang kali dibunyikan. Padahal kami sedang berkeliling kapal bersama komandan kapal. Kami sedang di dek bawag melihat dua unit kapal besar di lambung kapal raksasa ini. Dua kapal ini adalah kapal untuk menjemput pasien. Tapi bisa juga digunakan untuk mengantar pasukan yang berperang, menuju daratan.
Kamipun bergegas pamitan. Kami lantas menuju pintu keluar. Betapa terkejutnya kami, tangga sudah dirapikan. Tak ada lagi pegangan. Kami pun langsung turun tangga tanpa berpegangan. Puluhan warga yang melihat kapal hendak berlabuh pun menonton kami sambil tertawa. Tegang, namun sangat menyenangkan.
Beberapa menit kemudian kapten kapal sudah di dek atas, melihat ke arah kami, melambaikan tangan. Kami pun melambaikan tangan. Bersama kami, puluhan warga Belitung melambaikan tangan. Selamat tinggal KRI Soeharso, selamat menjalankan misi kemanusiaan berikutnya.
Tagged: liputan 16 Oktober 2011
Banyak anak muda kepincut dengan klub sepakbola papan atas dunia. Lalau bagaimana dengan orang yang sudah tua?
Wimar Witoelar, adalah termasuk oknum yang termasuk tua namun masih menikmati sepakbola. Ia pun punya klub kebanggaannya, Arsenal.
Di mata Wimar (bukan mata Najwa) Arsenal adalah klub sepakbola yang sempurna. Permainan Arsenal yang memukau dengan umpan pendek dan kedisiplinan tinggi memikatnya.
“Jadi Arsenal keindahan permainannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,” puji Wimar, saat ngobrol santai dengan saya.
Bahkan sekalipun Arsenal termasuk klub yang minim gelar juara, Wimar tak mempermasalahkan. Baginya Arsenal adalah pemain bersih.
“Arsenal memang adalah pemain bersih yang kalah. Memang kaya Partai SRI, kita main bersih bisa kalah,” ujarnya sambi tertawa.
Dasar orang politik, permainan sepakbola pun dia politisasi. Tapi setidaknya Wimar punya bukti.
“Ini foto saya bareng Fabregas, difoto pengawal saya, seperti lagi ngobrol lama. Banyak yang tanya apa saya sering BBM an sama dia, hahaha,” tutur Wimar yang berambut keriting ini sambil memamerkan foto kebanggaannya.
Tagged: profil 1 Oktober 2011
Siapa wanita tersibuk di DPR? Dia bukan wakil rakyat, dia hanyalah orang kecil.
Sebenarnya masih gadis, namanya Kesi. Mungkin usianya baru 17 tahun, dia sebagian dari anak kampung yang merantau ke Jakarta.
Jadi dia adalah wanita dengan mobilitas tertinggi di DPR. Dia mondar-mandir dari warug nasi dan kopi milik majikannya ke lobi Gedung Nusantara III DPR.
Dia kerap mondar-mandir membawa makanan dibungkus stereofoam atau gelas plastik berisi jus segar. Kadang ia membawa krupuk atau gorengan sesuai pesanan.
Memang Kesi adalah pelayan di warung makan. Tugasnya mengantarkan pesanan makanan awak media dan petugas keamanan DPR. Sudah tentu wakil rakyat pantang makan kelas warung kopi.
Gadis kelahiran Cirebon ini bekerja mulai pukul 10.00 WIB sampai lepas maghrib. Dari mengantar dengan penuh senyum, sampai berjalan sangat kelelahan sore harinya.
Ya, dia adalah wanita berpenampilan sederhana yang paling sibuk di DPR. Melayani pembeli, memuaskan pelanggan. Nasib memang kurang beruntung, tapi hidupnya bahagia.
Kesi, gadis sederhana dengan senyum Rp 4000,-
Jadis saat awak media membeli kopi seharga Rp 6000, maka lembaran Rp 10.000 tak pernah minta kembalian. Sisa Rp 4000 adalah harga senyumnya. Sebuah amal untuk wanita paling sibuk di DPR.
Tagged: dpr 23 September 2011
Lebaran kali ini terasa cukup berbeda. Kenapa? Akhirnya lebaran juga!!!
Memang pemerintah menunda lebaran kali ini setelah perdebatan panjang NU dan Muhammadiyah terkait penampakan hilal. Sidang penentuan hilal saja baru beres pukul 21.00 WIB, Senin (29/8/2011).
Akhirnya diputuskan juga 1 Syawal tahun ini jatuh hari Rabu (31/8/2011). Mau tak mau kita harus menambahn puasa sehari, sementara kaum Muhammadiyah sudah salat ied Selasa (30/8/2011). Dan kami menunda lebaran satu hari!
Aku yang yang sudah habis-habisan memaksakan puasa dalam kondisi sakit pun harus kembali berjuang berpuasa. Perjuanganku pun kian berarti karena ini sebenarnya juga menambah lama puasaku bersama keluarga di kampung halaman. Aku juga belum mempersiapkan kembang api dalam kondisi kesehatan tak maksimal.
“Mungkin lebaran ditunda karena memberi kesempatan aku sehat dulu,” kataku menenangkan diri, disabut tawa ibu,adik, dan istriku.
Buka puasa keesokan harinya pun aku sangat bersemangat. Bahkan aku sudah berbelanja petasan sebelum waktu berbuka. Aku ingin lekas merayakan hari kemenangan. “Akhirnya lebaran juga!,” teriakku begitu mendengar adzan maghrib berkumandang.
Akhirnya kami pun berbuka puasa, salat jamaah bersama, dan mengumandangkan takbir kemenangan. “Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…Lailahailallahuallahuakbar…Allahuakbarwalillahilhamd…”seru kami.
Selang beberapa saat kemudian kuajak ponakanku Kiki, Rizal, adiku Dhinar, Nabila, Ibuku, dan istriku berpesta kembang api di atap rumah kami. Terasa menyenangkan, meski lebaran ditunda.
“Akhirnya lebaran juga…alhamdulillah ya,” ucapku bersyukur.
Catatan kaki:Lantas kenapa tulisan ini baru bisa dipublish? Karena Indosat tak pernah mendukung Lebaran dengan sinyal kuat. Sinyal Blackberry dan internet mati total, beruntung SMS masih bisa digunakan.
Tagged: lebaran 2 September 2011
Lamunanku tiba-tiba terhenti pada suatu masa, saat aku bermain ‘jilumpet’ bersama Ipung, Pringgi, daln lainnya. Mereka teman masa kecilku.
Kala itu memang tak ada mainan modern yang mampu kami beli. Meminta pun kami tidak berani.
Sepulang sekolah SD biasanya kami meluncur ke perkebunan pisang milik kakekku. Kupilih yang terbaik, kupotong dengan pisau berkarat dan kujadikan pistol. Setelah itu rentetan suara peluru adalah suara mulut kami. Ditambah teriakan “Aaaak,” maka lengkaplah permainan kami.
Bergeser ke masa SMP, aku punya mainan baru. Salah satunya adalah mobil-mobilan kecil. Aku biasa berhayal, seolah aku punya puluhan mobil. Bantal kujadikan pegunungan, lekukan kasur berisi kapas kubayangkan sebagai jalan pedesaan yang bergelombang. Begitulah caraku menenangkan hati.
Hari terasa cepat berlalu, tak terasa sepuluh tahun lebih berlalu. Kini aku yang gemar bernain diwaktu lenggang punya banyaj mainan baru.
Aku kini ditemani ponsel multimedia yang sanggup memainkan game, merekam video, memotret, mendengar musik, hingga sekedar mendengarkan radio. Hari-hari lengganggku pun kini diisi dengan geser menggeser layar ponselku.
Namun entah kenapa melihat mainan anak-anak masih membuatku tertarik untuk memiliki. Namun harus kutahan, karena aku tak punya waktu lagi untuk bermain-main. Kini aku di dunia baru, dunia kerja, kian lengkap dengan istri yang selalu menemaniku.
Bahkan mainan baru yang coba kugandrungi, buku, tak mampu membuatku setia. Aku kini tak lagi menjadi pembaca yang baik setelah merampungkan trilogi lima menara.
Namun aku masih punya sedikit waktu untuk memainkan permainan anak-anak. Yakni saat aku pulang kampung, adiku Nabila punya segudang mainan dari puzel sampai box susun. Meski itu juga mainan modern, tapi mampu membuat ayalku berjalan seperti masa kecil. Aku rindu masa kecilku.
Tagged: mainan 27 Agustus 2011
Malam minggu ini aku berencana menonton Transformer III di Pejaten Village, Jakarta Selatan. Dan aku dalam masalah besar….
Memasuki parkiran mal ini, sudah dapat kupastikan mal terbesar di Jakarta Selatan ini sedang kebanjiran pengunjung. Ini yang membuat masalah tersendiri…
Rupanya ada pemutaran film Hollywood yang sudah jaran diputar di XXI karena masalah pajak import. Dua film yang ditayangkan tergolong Box Office, ada Transformer III yang hendak kutonton, dan Harry Potter edisi final. Wajar saja parkiran mal ini sudah seperti orang demo di Bundaran HI saja.
Sampai di Pejaten Village, aku langsung naik ke lantai puncak menuju XXI, aku memesan tiket untuk menonton film Transformer pukul 21.00. Sayangnya aku harus puas mengantongi tiket menonton pukul 00.30 pagi, tapi bukan itu masalahnya….
Aku sudah janjian dengan istriku untuk menonton bersama. Sekitar pukul 19.30 istriku menelepon, aku memang langsung mampir mal dari kantor untuk membeli tiket, dia sudah sampai. Kami pun makan bersama di salah satu gerai favorit kami.
Rupanya makanan yang terlalu besar porsinya menyiksa perutku. Semakin lama semakin terasa menyiksa.
Menunggu jadwal menonton, kami pun mampir Gramedia untuk sekedar membeli buku. Baru beberapa menit memilih buku, perutku mendadak sakit, aku pengen boker!!!
Aku pun langsung pamit ke istriku. “Yang aku ke XXI dulu ya mau eek,” kataku penuh percaya diri.
Wus…ternyata di toilet XXI penuh semua. Ada anak kecil yang main serobot juga padahal aku ngantri, sepertinya malam ini banyak pengunjung yang pengen boker!
Sambil memegangi pantat takut bocor, aku turun elevator ke lantai bawah, hingga dasar. Alamakkk…semua toilet penuh!
“Yang dimana,” kata istriku dalam SMSnya.
“Lagi nyari toilet ke lantai bawah penuh semua, tunggu di XXI saja ya,” jawabku penuh strategi.
Aku pun naik lagi. Kudapati toilet di lantai puncak di samping XXI ada yang kosong. Rupanya toilet ini sedang dibersihkan dan mau tutup!
Aku pun memohon, ” Mas tolong tissuenya,” kataku, kusambar tissue langsung kududuk dengan tenang.
“Tok..tok..tok,” mas saya mau pulang,” ujar petugas beres-beres itu, belum ada lima menit aku duduk. Duh!!!
Aku pun lekas beres-beres. Perut masih sakit, pantat masih panas. Kutemui istriku. “Asem belum puas sudah diusir,” keluhku.
Baru sekitar pukul 23.30 aku bisa boker tenang di WC XXI. Wuih terasa mewah sekali WC ini, sumpah!
Perjuangan mendapatkan toilet berasa seperti perjuangan merebut kemerdekaan, kemerdekaan dari sakit perut!!!
Pesan: “Jangan mengandalkan toilet mal !”
Tagged: toilet 7 Agustus 2011
Tahun 2003 kami bertemu, tahun 2006 kami berpisah, kini kami dipertemukan di Jakarta.
Pertama kakiku menginjakkan kaki di Kota Satria, Purwokerto, tahun 2003 silam, dalam rangka studi program sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Udara dingin kota Satria masih terngiang menusuk setiap sisi tubuhku hingga saat ini. Mengingat kota ini membuat dada terasa sesak yang sulit dijelaskan.
Setelah usai melakukan daftar ulang di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman yang ada di daerah Karangwangkal, aku segera pulang ke rumah saudaraku di daerah yang aku lupa namanya, karena meninggalkan kenangan pahit Seingatku cuma melewati Moro, Rajawali 21, hingga terminal Purwokerto…oh ya daerah Perumahan Teluk!
Betapa tidak pahit, hanya sepekan menginap, aku diusir secara halus. Namun siapa sangka, karena ini aku bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik dalam sejarah hidupku.
Aku akhirnya kos di daerah Gor Satria, kebanggaan warga kota mendoan ini selalu ramai bak pasar tumpah diMinggu pagi atau hari libur. Aku dulu kerap berjalan-jalan untuk sekedar menikmati bubur hangat plus tempe mendoan. Sampai kini tempe mendoan punya tempat bersejarah di hati dan mulutku.
Di kos seharga Rp 150 ribu per bulan ini aku berkenalan dengan teman-temanku yang semua sudah bekerja. Memang harga itu termasuk mahal untuk ukuran Purwokerto apalagi kelas mahasiswa, itu yang membuat aku yang berkantong tipis kerap berpindah kos di kemudian harinya.
Kucoba mengingat susunan kamar di kosku yamg kira-kira jumlahnya delapan kamar. Kamarku tepat berada di depan tempat mencuci baju yang dilengkapi sumur pompa manual yang gagangnya selalu copot. Di kanan kamarku, Mas Imam yang digemari tante-tante girang dokter tinggal, belakangan karena dia bernasib mujur menjadi PNS.
Disebelah kiriku tinggal Mas Toni. Aku tak terlalu mengenal pria bersuara besar ini, tapi pria plontos yang gemar memakai kacamata hitam ini sangat ramah. Ia digosipkan punya banyak istri.
Berseberangan dengan kamarku adalah Mas Adi. Seingatku dia yang paling ngebet memiliki HP Nokia 3350, Nokia paling modern kala itu. HP ini sudah dilengkapi kamera VGA yang digunakan untuk mengabadikan fotonya dan kekasihnya yang cantik, ia kini berada di Solo.
Sebelahnya berturut-turut ada Mas Bremi Palguna dan Mas Yunianto. Mereka adalah senior kos yang dekat denganku, kuanggap seperti kakak sendiri. Bertahun-tahun aku mengikuti jejak mereka pindah kos. Dari Gor Satria, gang Mi Kelinci di Jl HR Bunyamin, hingga ke kos yang tergolong sempit yang aku lupa namanya.
Mas Yunanto orang Solo, sangat ramah, gendut. Ia dulu kukenal sebagai pengendara pespa yang baik. Entah pespanya masih ada atau tidak. Pastinya ia sudah sukses, sudah menikah dengan teman kerjanya, dan sudah menetap di Purwokerto. Aku ingin menjenguk anaknya jika diberi ruang waktu kelak.
Mas Bremi sama seperti Mas Yun, kala itu tergolong mapan. Badan berperawakan gendut menunjukkan kemapanannya. Sekarang tentunya mereka jauh lebih Mapan. Mas Bremi hobi sekali mengoleksi lagu-lagu. Di kamar kosnya dilengkapi home theater yang kala itu masih setengah barang mewah. Ia juga gemar makan yang enaka-enak. Dia yang menginspirasiku untuk menjadi orang mapan suatu hari nanti.
Masih ada lagi namanya Mas Heru. Kukenal dia yang juga sahabat teman-temanku itu di kos kedua kami di gang Mie Kelinci milik anak kecil bernama Angi dan Ibunya yang janda kurus. Disini kami tinggal di lantai II dan membayar Rp 100 ribu per bulan.
Mas Heru sedikit unik dalam perjalanan cintanya, aku tak berani menjelaskan nanti kualat. Kudengar dia sekarang sudah sukses.
Kini setelah enam tahun tak bertemu. Aku mulai menemukan pecahan mozaik hidupku. Sahabat-sahabat yang menginspirasiku terlihat satu demi satu. Melalui momen tak terduga melalui teman lamaku, akhirnya aku kembali terhubung dengan Mas Bremi. Dia kini sudah sukses menjadi Area Manajer di Perusahaan Farmasi Pfiser yang berpusat di Jakarta.
Rupanya Mas Bremi dipindah ke Jakarta. Sementara ini anak dan istrinya masih di Semarang, di kota kelahirannya. Dia sudah punya anak yang mudah-mudahan ganteng.
Kini sahabat-sahabatku makin mapan. Bagaimana nasib pespa yang mereka kendarai waktu itu? Yang jelas kudengar rencana mereka hendak membeli mobil baru Aku ikut merasakan bahagia tak terkira.
Tagged: sahabat 1 Agustus 2011
Hidup memang penuh dinamika. “Lumayan,” kata Pak Jenggot saat mendapat jatah slempetan kursi di kereta api bisnis jurusan Purworejo-Jakarta.
Pengalaman ini sebenarnya sudah sering kulihat di gerbong kereta bisnis. Yang dimaksud slempetan kursi adalah rongga kecil diantara punggung kursi yang dihadap-hadapkan. Ini yang mereka para penumpang gratis atau yang tidak beruntung dapat tiket cari.
“Mas sudah manteb duduknya disini?” ujar seorang bapak penumpang kereta yang berjenggot dan berkopiah putih, penuh harap.
Posisi kursi kur 5D di gerbong 4 KA Sawunggalih Malah Purworejo-Jakarta memang disetel berhadapan dengan kursi nomor 6D. Artinya ada rongga diantara punggung kursi 6D dan kursi 7D. Rongga segitiga gelap yang cukup untuk tidur seorang bapak-bapak bergamis putih ini.
Dua bantal kuning disewa bapak berkacamata ini. Nasib bapak jenggot ini cuma dua, dia tidak mendapat tempat duduk, atau dia mencoba berspekulasi naik kereta gratis.
“Nggih Pak,” jawabku santai, karena memang nenek dan cucunya yang duduk di depanku memilih menghadapkan kursinya ke arahku, mengamankan rongga lapang diantara dua kursi ini untuk meletakkan kerancang plastik berisi bekal untuk cucunya itu.
Pria berjenggot berusia 40 an tahun yang mengincar rongga tempat tidur pun sumringah. Ia meletakkan dua bantalnya, menata lembaran koran, dan sekali lagi menanyaiku.
“Bener kan mas sudah manteb? Saya nggak papa nggak dapat tempat duduk asal bisa selonjoran. Lumayan,” kata pak jenggot sambil tersenyum gembira.
Anggukan kepala saya langsung disambutnya sumringah. Dia pun tiarap, membenamkan badannya ke slempetan kursi. Tidur selonjor di kereta bisnis yang kursinya terus naik. Selamat bermimpi Pak Jenggot. Mudah-mudahan selamat sampai tujuan.
Elvan-
25 Juli 2011
Namanya Almira, dia lebih dikenal sebagai “siluman kodok”……………
Almira adalah nama keponakan istriku, anak ketiga dari tiga bersaudara dari ayah bernama Tarto dan ibunya bernama Mila. Keluarga yang terhitung masih cukup muda.
Kakak Almira, Mita tergolong sebagai anak baik. Paras cantik dan pendiam muncul dari gadis berusia 12 tahun ini. Namun kakak keduanya bernama Duta, sangat nakal. Sebagai anak kecil yang gemar merokok puntung rokok kakeknya, dia tergolong brandalan yang tidak pernah takut terhadap orang tuanya. Kakinya merah dipenuhi sekrup alam alias koreng.
Kembali ke Almira…..
Dia adalah anak kecil berusia balita yang sangat aktif. Mungkin karena kebanyakann susu formula-agresifitas anak kugambarkan karena kebanyakan suplay nutrisi lewat susu formula.
Di siang hari dia adalah anak berusia tiga tahun yang luar biasa ulet. Dia selalu berlari mendaki tangga depan rumah, menyusuri jalan kecil di depan rumah, atau memanjat pagar rumah tetangga. Hanya dengan memakai kaos singlet dan celana dalam yang usang, Almira menunjukkan gigihnya anak kecil dalam bermain.
Dia paling suka dengan eskrim. Saat matanya berbinar menikmati es krim, saat itu juga leleran es mencair melewati bibirnya, dagu, hingga tangan, perut, dan kakinya yang penuh debu. Ini pemandangan jahat! Dan dia suka menendang-nendangkan kaki kotornya ke setiap orang.
Sore hari Almira berubah menjadi jinak. Dia menjadi anak balita yang relatif penurut. Gerakan salto di lantai kotor tanpa alas masih kuanggap wajar dilakukan Mira, nama akrabnya.
Dan menjelang tengah malam, saat semua orang dewasa di rumahnya tengah bercerita hingga larut malam, Almira mulai menunjukkan wujud aslinya sebagai siluman kodok.
Dia tidur telungkup di lantai yang dilapisi karpet hijau tipis. Kepalanya menunduk mencium lantai. Telungkup, kakinya membuka seperti berenang gaya kodok, tangannya juga membuka setengah menekuk ke atas. Oleh keluarganya, dialah yang diakui sebagai siluman kodok!
25 Juli 2011
Previous Posts